Jumat, 03 April 2015

PERAN HADIS DALAM PROBLEMATIKA PENDIDIKAN



PERAN HADIS DALAM PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Oleh : Rizqa Fathurahmah Farhah


A.      Latar Belakang Masalah
Seiring berjalannya waktu, dengan melihat dan memperhatikan kondisi pendidikan di Indonesia khususnya di tengan masyarakat kita belum banyak yang mengacu pada sunnah, sekalipun umat Islam mengklaim bahwa sunnah adalah sumber pendidikan. Penyebab mengenai hal ini menjadi sebuah pertanyaan, apakah disebabkan karena kurangnya kajian-kajian hadis, kurangnya thalib hadis, atau karena persepsi sebagian besar masyarakat yang kurang tepat, bahwa sunnah hanya sebagai sumber ibadah atau sebagai tradisi orang Arab.
Nabi Muhammad SAW.dalam menyampaikan risalah-Nya tidak selalu dipandang sebagai Rasul, tetapi juga dipandang sebagai muftȋ  (pemberi fatwa), sebagai imam, hakim, atau pemimpin masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan umat secara temporer dan kondisional. Permasalahan dalam sunnah yang menyangkut sosial kemasyarakatan, latar belakang, dan kondisi masyarakat yang dihadapi, memang bersifat ijtihadi dan berkembang terus interpretasinya. Maka ada kalanya wahyu dan ijtihad  Nabi didasarkan pada kemaslahatan umat dan sesuai dengan lingkungan setempat. Dalam hal ini peran Hadis dibutuhkan demi tercapainya kemaslahatan umat dan sampainya Hadis tersebut kepada masyarakat salahsatunya melalui pendidikan, oleh karenanya kontribusi Hadis dalam kehidupan bukan sesuatu yang diragukan lagi.
Menjadi suatu keprihatinan jika melihat realita kondisi tunas bangsa saat ini, pendidikan karakter seolah hanya sepintas tanpa aplikasi. Maka yang menjadi pertanyaan, apa yang salah?, apakah pendidikan atau objek dari pendidikan itu sendiri ?.

Pendidikan yang diselenggarakan di setiap satuan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, bahkan yang dilakukan di lembaga-lembaga nonformal dan informal seharusnya dapat menjadi landasan bagi pembentukan pribadi peserta didik, dan masyarakat pada umumnya. Namun demikian, pada kenyataannya mutu pendidikan, khisusnya mutu output pendidikan masih rendah dibandingkan dengan pendidikan di Negara lain, baik di Asia, maupun di kawasan ASEAN. Rendahnya mutu pendidikan tidak dapat dibiarkan, akan tetapi perlu penanganan yang menyeluruh. Karena pendidikan menjadi peranan penting untuk kelangsungan bangsa dan negara, dan merupakan wahana untuk mengembangkan sumber daya manusia.[1]
 Hampir setiap hari, kita disuguhi contoh-contoh yang menyedihkan melalui film dan televisi yang secara bebas mempertontonkan perilaku kekerasan, penyalahgunaan obat terlarang, korupsi, yang telah membudaya dalam sebagian masyarakat, bahkan di kalangan pejabat dan artis. Kita juga mendengar, melihat, dan menyaksikan, betapa para pemuda, pelajar dan mahasiswa yang diharapkan menjadi tulang punggung bangsa telah terlibat dengan VCD porno, pelecehan seksual, narkoba, dan perjudian. Bahkan pada saat ini terjadi pelecehan seksual pada anak yang sebagian besar pelecehan seksual tersebut terhadap anak-anak sebelum masa puber (pedofilia).
Pendidikan karakter menjadi isu menarik dan hangat dibicarakan kalangan praktisi pendidikan akhir-akhir ini. Seseorang tidak akan mendapatkan nilai positif dari pendidikan jika hanya mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa dibarengi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, akal, penalaran. Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan orang-orang yang cerdas, jujur, dan rendah hati.
Dalam konstek tersebut, pendidikan selama ini diangggap telah melahirkan manusia berkarakter tanpa  memiliki kecerdasan hati, emosi, dan nurani. Maka tidaklah mengherankan jika kasus-kasus yang merugikan emosi dan  masyarakat ( seperti kasus Akil Mukhtar ketua Mahkamah Konstitusi, presiden PKS Muhammad Lutfi Hasan, kasus Gayus, dan kasus-kasus yang lainnya), justru melibatkan orang-orang yang secara formal berpendidikan tidak rendah. Ini artinya, pendidikan selama ini, secara tidak langsung telah memiliki andil terhadap maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menyebabkan negara ini tergolong sebagai salah satu negara yang tingkat korupsinya tinggi.
Dengan melihat realitas yang ada, penulis berharap hadis-hadis Nabi SAW dapat menjadi problem solver dalam hal ini, sehingga alternatif solusi dalam pendidikan. Bagaimana cara Rasulullah SAW membangun dan mentansfer nilai-nilai karakter karakter kapada para shahabatnya. Mengingat Rasulullah SAW diutus Allah SWT adalah untuk menyempurnakan akhlak.   
Secara simplisit mungkin terkesan terlalu sederhana, jika problem-problem besar dalam pendidikan alternative solusinya dikembalikan kepada hadis Nabi SAW, mengingat hadis telah ada beberapa abad yang lau, dimna komunitas masyarakanya masih sangat sederhana. Namun yang perlu diingat bukan hanya melihat susunan teks (tekstual), akan tetapi upaya mehahami lebih lanjut dianggap perlu. Mengingat adanya signifikasi nilai-nilai edukatif di dalamnya.

B.       Metode Pendidikan Nabi SAW
Beberapa faktor yang mendukung pernyataan akan pentingnya pendidikan telah ada sejak jaman Rasulullah SAW. bahkan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW pun perintah untuk membaca. Dan membaca merupakan salah satu elemen dalam pendidikan.
Dalam memberikan pendidikan kepada para sahabat, Nabi Muhammad SAW telah menggunakan  beberapa metode pendidikan, diantaranya adalah :
1.      Graduasi (al Tadarruj)
Metode graduasi atau penahapan ini sebenarnya merupakan metode al- Qur’an dalam membina masyarakat, baik dalam melenyapkan kepercayaan dan tradisi jahiliyah maupun yang lain. Al Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW secara bertahap (berangsur-angsur), begitu pula Nabi SAW dalam menyampaikan hal itu kepada pasa sahabat. Karenanya, sangatlah wajar apabila salah satu metode pendidikan Nabi SAW adalah graduasi. [2]
 Metode ini digunakan pula dalam pembuatan kurikulum untuk menentukan jangkauan dan rangkaian belajar (Determining scope and sequence). Salah satu metode graduasi yang digunakan adalah simple to complex. [3]
2.      Levelisasi (Mu’arat Mustawayat)
Penyampaian materi dakwah atau pelajaran yang dilakukan Nabi SAW sering berbeda antara satu orang dengan orang lain. Hal ini karena beliau sangat memperhatikan level-level atau peringkat kecerdasan tersebut agat materi yang dijarkan tidak sia-sia karena Nabi SAW berbicara sesuai dengan tingkat kecerdasan dan budaya mereka.[4]
Metode ini jika selaras dengan entry and exit level yang digunakan pada course planning tepatnya sebagai metode kedua setelah course rationale yang merupakan alasan dibentuknya suatu course.[5]
3.      Variasi (Al-Tanwi’ wa al-Taghyir)
Variasi pendidikan Nabi SAW ini dalam hal waktu untuk menghindari kejenuhan karena Rasulullah SAW memberikan pelajaran pada hari-hari tertentu dengan bervariasi. Menrut Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khattib, metode ini banyak digunakan oleh lembaga-lembaga pendidikan kontemporer. [6]
Pendapat beliau sesuai dengan pengembangan variasi mengajar, menurut Udin S.Winaputra (2004) variasi sebgai keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton, karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses belajar mengajar ada kalanya siswa, bahkan guru mengalami kejenuhan.[7]
4.      Keteladanan (Al-Uswah wa al-Qudwah)
Sebelum menyuruh para sahabat untuk melakukan suatu perbuatan, Nabi SAW selalu member contoh lebih dahulu bagaimana cara melakukannya. Metode ini sangat efektif karena para sahabat dapat melihat sendiri bagimana ajaran Nabi SAW dipraktikan. [8]
Metode ini sesuai dengan quote John C. Maxwell yang mengatakan “pemimpin paling efektif adalah yang memberikan contoh, bukan perintah”. Menurut Siful Bahri Djamarah, seorang guru bukan hanya berkewajiban memberikan ilmu pengetahuan, akan tetapi hal yang lebih penting adalah membrikan contoh yang baik terhadap anak didiknya. Hal ini menjadi salah satu penyebab adanya bebrapa syarat kompetensi yang harus dimiliki guru.[9]
5.      Aplikatif (Al-tatbiqi wa al-‘Amali)
Nabi SAW telah memberika suri tauladan dalam ajaran-ajaran yang beliau ajarkan, maka pada gilirannya para sahabat yang mengaplikasikan ajaran-ajaran tersebut. pendidikan Nabi SAW tidak sekedar penyampaian pelajaran saja, melaiankan juga langsung diamalkan.[10]
Metode ini berhubungan dengan developing instructional (pengembangan pembelajaran), pada developing instructional aplikatif dikatakan sebagai outcome, pada metode inilah siswa diharapkan mampu mencapai aim pada silabus.[11]




6.      Dialog (al-Hiwar), analogi (Al-Qiyas), dan cerita atau kisah (al-Qishah)
Nabi SAW melakukan beberapa kretifitas dalam metode pengajarannya, diantaranya dialog, analogi, dan cerita. Metode ini digunakan agar proses belajar mengajar dapat dinikmati oleh siswa. [12]
Keterampilan dalam mengajar sangat penting dan berkaitan dengan usaha mempertahankan kondisi kelas dan mengembangkan iklim kelas. Dengan adanya keterampilan seperti dialog, analoi, dan kisah, dapat membuat siswa lebih semangat dalam belajar.[13]
            Beberapa metode pendidikan Nabi SAW sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW meletakan pendidikan pada posisi yang penting, dan metode tersebut sesuai dengan apa yang telah ada saat ini, artinya tidak ada pertentangan di dalamnya. Hanya terdapat beberapa perkembangan metode yang diaplikasikan oleh pendidikan saat ini. Jika metode-metode pendidikan telah sesuai dengan metode pendidikan Nabi SAW, maka seharusnya pendidikan pada saat ini lebih banyak memberikan pengaruh positif bagi siswa, akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang mendapat pengaruh positifnya, karena pada realitasnya banyak perilaku siswa yang tidak pantas dilakukan. Inilah permasalahan pendidikan di Indonesia hanya sekedar teori.
C.        Problematika Pendidikan
Adapun yang dimaksud dengan problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara Indonesia.[14]
Sistem pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem. Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.
Objek permasalahan yang dianggap cukup penting pada pada pembahasan ini yaitu adanya kecenderungan menurunnya akhlak dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini pendidikan agama menjadi sangat penting. Landasan akhlak dan moral serta budi pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini, dengan demikian hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika setelah terjun ke masyarakat.
Eratnya hubungan pendidikan dan masyarakat, menjadi tanggung jawab tersendiri bagi pendidikan. Pada saat ini, permasalahan pelecehan seksual terhadap anak kecil (pedofilia) merupakan sesuatu yang  sangat memprihatinkan bagi pendidikan, karena budi pekerti seharusnya benar-benar diterapkan sejak dini agar menjadi landasan yang kokoh. Jika objek permasalahan ini adalah anak kecil, maka dapat dikatakan pendidikan gagal dalam menyampaikan budi pekerti.
Permasalahan ini mendorong adanya perbaikan pada pendidikan yang implementasinya pada kurikulum, maka pada saat ini pembentukan kurikulum 2013 menekankan pada nilai afektif siswa dengan meningkatkan pendidikan karakter, dengan harapan terjaganya akhlak dan moral generasi bangsa. Tentunya pada pengembangan nilai afektif ini, perlu ada kontribusi yang cukup besar dari lingkungan, masyarakat, terutama orang tua. Tujuan dari kurikulum 2013 ini tidak akan terwujud sesuai yang diharapkan jika tidka ada kontribusi dari lingkungan masyarakat sekitar dan keluarga.
D.                Relevansi Hadis Nabi SAW dengan Pendidikan
Beberapa metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah SAW sejalan dengan metode pendidikan di Indonesia pada umumnya. Perilaku yang dicontohkan Rasulullah SAW jelas masuk kategori prilaku atau karakter akhlak mulia dan menunjukan budi pekerti luhur yang memang seharusnya dikembangkan dan dimiliki oleh setiap manusia.  Lewis mengatakan bahwa akhlak/karekter seperti mengasihi, menghormati, jujur, tanggung jawab, dan adil merupakan karakter positif. Mengembangkan karakter positif berhubungan dengan nurani, keyakinan, pengalaman pribadi, pola asuh, hak-hak, tanggung jawab, kebudayaan, serta  hukum yang berhubungan dengan diri sendiri, sesama dan dengan dunia. [15]
Relevansi hadis Nabi SAW terdapat pada konsep pendidikan karakter yang dilakukan Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya.
            Di bawah ini beberapa hadis yang berkaitan dengan pendidikan karakter, diantaranya adalah ;
دَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع  )  رواه أبو داود )
            Hadis tersebut mengandung dua pokok bahasan, yaitu :
1.      Intruksi Rasulullah SAW kepada umat Islam untuk memerintahkan anaknya melaksanakan ibadah shalat fardu ketika berusia 7 tahun dan pada saat berusia 10 tahun, jika seorang anak tidak mau menjalankan perintah untuk shalat, maka orang tua diperbolehkan memukulnya. Perintah shalat ini selain mengandung nilai-nilai perilaku manusia terhadap Allah SWT sebagai pembentuk karakter spiritual dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Hadis ini juga mengandung nilai-nilai yang terkandung pada diri sendiri dan mengandung tuntunan untuk mencapai kedisiplinan waktu, menjalankan perintah Alla SWT dan menjauhi larangan-Nya.
2.      Perintah memisahkan tempat tidur diantara mereka, dimaksudkan menghindari fitnah seks di tempat tidur, karena usia 10 tahun ini usia menjelang baligh atau menjelang usia remaja. Perkembangan seksnya mengalami perkembangan jasmani dan rohaninya. Syekh al-Manawi dalam Fath al-Qadir Syarah al-Jami al-Shagir berkata bahwa pemisahan tempat tidur antar mereka untuk menghindari syahwat seksual.[16]
Dalam hadis digabungkan antara perintah shalat dan perintah memisahkan mereka dari tempat tidurmemberikan pelajaran agar memelihara perintah-perintah Allah SWT secara keseluruhan dan memelihara hubungan baik antar sesama manusia. Anak dijauhkan dari pengaruh dorongan seks atau penyimpangan seksual bagi pergaulan bebas maupun tontonan film-film atau gambar dan cerita porno yang merangsang birahi seksual anak.
Relevansi hadis ini dengan masalah pelecehan seksual pada anak usia dini. Jika melihat pada hadis ini, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, maka hal tersebut seharusnya tidak terjadi. Begitu penting peran hadis dalam hal ini menjadikan pendidik semakin berkewajiban untuk mengembangkan pendidikan karakter yang ditekankan pada kontribusi orang tua.
Dengan demikian hadis Rasulullah relevan dengan teori-teori dalam pendidikan pada masa sekarang. Dalam pelaksanaa shalat, terjadi juga pengetahuan moral (moral know), perasaan moral, (moral feeling), dan keterampilan moral (moral skills).

E.     Simpulan
       Konsep pendidikan pada masa Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya sejalan dengan konsep pendidikan yang dikemukakan para ilmuan masa sekarang. Materi yang beliau ajarkan senantiasa selaras dengan akhlak beliau. Beberapa metode yang diterapkanpun sejalan dengan metode pendidikan pada saat ini umumnya.
        Demikian dapat dketahui adanya problematika pendidikan bukan karena pendidikan itu sendiri, melainkan semua terkait dalam pendidikan, terutama peserta didik dan orang tua.



[1] Mulyasa, Pengembangan Implementasi Kurikulum 2013,( Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA, 2013),h.13. 
[2] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), cet. Ke 4, h. 138.
[3] Richards Jack C., Curriculum Development in Lnaguage Teaching,(United States: Cambridge University Press. 2001).h. 150.
[4] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.139 .
[5] Richards Jack C., Curriculum Development in Language Teaching, h. 146
[6] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.141.
[7] Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung :Refika Aditama, 2009), h. 91
[8]  Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.142
[9]  Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar,h. 43
[10]  Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.142             
[11] Richards Jack C., Curriculum Development in Language Teaching, hal.166
[12]  Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar ,h.146-148
[13]  Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar ,h.108
[14]  Mochtar Buchori. 1994. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. (Yogyakarka: Tiara Wacana Yogya), h. 46-47
[15] (Lewis, B.A. (2004). Character Building , New York:publishing Group,2004),h.5

[16]  Khon, Abdul Majid, Hadis Tarbawi, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2012), h.267.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar