PERAN HADIS DALAM
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN
Oleh : Rizqa Fathurahmah Farhah
A.
Latar Belakang Masalah
Seiring
berjalannya waktu, dengan melihat dan memperhatikan kondisi pendidikan di
Indonesia khususnya di tengan masyarakat kita belum banyak yang mengacu pada
sunnah, sekalipun umat Islam mengklaim bahwa sunnah adalah sumber pendidikan.
Penyebab mengenai hal ini menjadi sebuah pertanyaan, apakah disebabkan karena
kurangnya kajian-kajian hadis, kurangnya thalib hadis, atau karena
persepsi sebagian besar masyarakat yang kurang tepat, bahwa sunnah hanya
sebagai sumber ibadah atau sebagai tradisi orang Arab.
Nabi
Muhammad SAW.dalam menyampaikan risalah-Nya tidak selalu dipandang sebagai
Rasul, tetapi juga dipandang sebagai muftȋ (pemberi fatwa), sebagai imam, hakim, atau
pemimpin masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan umat secara temporer
dan kondisional. Permasalahan dalam sunnah yang menyangkut sosial
kemasyarakatan, latar belakang, dan kondisi masyarakat yang dihadapi, memang
bersifat ijtihadi dan berkembang terus interpretasinya. Maka ada kalanya
wahyu dan ijtihad Nabi didasarkan
pada kemaslahatan umat dan sesuai dengan lingkungan setempat. Dalam hal ini
peran Hadis dibutuhkan demi tercapainya kemaslahatan umat dan sampainya Hadis
tersebut kepada masyarakat salahsatunya melalui pendidikan, oleh karenanya
kontribusi Hadis dalam kehidupan bukan sesuatu yang diragukan lagi.
Menjadi
suatu keprihatinan jika melihat realita kondisi tunas bangsa saat ini,
pendidikan karakter seolah hanya sepintas tanpa aplikasi. Maka yang menjadi
pertanyaan, apa yang salah?, apakah pendidikan atau objek dari pendidikan itu sendiri
?.
Pendidikan yang diselenggarakan
di setiap satuan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan
tinggi, bahkan yang dilakukan di lembaga-lembaga nonformal dan informal
seharusnya dapat menjadi landasan bagi pembentukan pribadi peserta didik, dan
masyarakat pada umumnya. Namun demikian, pada kenyataannya mutu pendidikan,
khisusnya mutu output pendidikan masih rendah dibandingkan dengan
pendidikan di Negara lain, baik di Asia, maupun di kawasan ASEAN. Rendahnya
mutu pendidikan tidak dapat dibiarkan, akan tetapi perlu penanganan yang
menyeluruh. Karena pendidikan menjadi peranan penting untuk kelangsungan bangsa
dan negara, dan merupakan wahana untuk mengembangkan sumber daya manusia.[1]
Hampir setiap hari, kita disuguhi
contoh-contoh yang menyedihkan melalui film dan televisi yang secara bebas mempertontonkan
perilaku kekerasan, penyalahgunaan obat terlarang, korupsi, yang telah
membudaya dalam sebagian masyarakat, bahkan di kalangan pejabat dan artis. Kita
juga mendengar, melihat, dan menyaksikan, betapa para pemuda, pelajar dan mahasiswa
yang diharapkan menjadi tulang punggung bangsa telah terlibat dengan VCD porno,
pelecehan seksual, narkoba, dan perjudian. Bahkan pada saat ini terjadi
pelecehan seksual pada anak yang sebagian besar pelecehan seksual tersebut
terhadap anak-anak sebelum masa puber (pedofilia).
Pendidikan karakter menjadi isu
menarik dan hangat dibicarakan kalangan praktisi pendidikan akhir-akhir ini.
Seseorang tidak akan mendapatkan nilai positif dari pendidikan jika hanya
mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa dibarengi
dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, akal, penalaran. Pendidikan
diharapkan dapat menghasilkan orang-orang yang cerdas, jujur, dan rendah hati.
Dalam konstek tersebut,
pendidikan selama ini diangggap telah melahirkan manusia berkarakter tanpa memiliki kecerdasan hati, emosi, dan nurani.
Maka tidaklah mengherankan jika kasus-kasus yang merugikan emosi dan masyarakat ( seperti kasus Akil Mukhtar ketua
Mahkamah Konstitusi, presiden PKS Muhammad Lutfi Hasan, kasus Gayus, dan
kasus-kasus yang lainnya), justru melibatkan orang-orang yang secara formal
berpendidikan tidak rendah. Ini artinya, pendidikan selama ini, secara tidak
langsung telah memiliki andil terhadap maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme
yang menyebabkan negara ini tergolong sebagai salah satu negara yang tingkat
korupsinya tinggi.
Dengan melihat realitas yang ada,
penulis berharap hadis-hadis Nabi SAW dapat menjadi problem solver dalam
hal ini, sehingga alternatif solusi dalam pendidikan. Bagaimana cara Rasulullah
SAW membangun dan mentansfer nilai-nilai karakter karakter kapada para shahabatnya.
Mengingat Rasulullah SAW diutus Allah SWT adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Secara simplisit mungkin
terkesan terlalu sederhana, jika problem-problem besar dalam pendidikan
alternative solusinya dikembalikan kepada hadis Nabi SAW, mengingat hadis telah
ada beberapa abad yang lau, dimna komunitas masyarakanya masih sangat sederhana.
Namun yang perlu diingat bukan hanya melihat susunan teks (tekstual), akan
tetapi upaya mehahami lebih lanjut dianggap perlu. Mengingat adanya signifikasi
nilai-nilai edukatif di dalamnya.
B.
Metode Pendidikan Nabi SAW
Beberapa faktor yang mendukung
pernyataan akan pentingnya pendidikan telah ada sejak jaman Rasulullah SAW. bahkan
wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW pun perintah untuk membaca. Dan
membaca merupakan salah satu elemen dalam pendidikan.
Dalam memberikan pendidikan
kepada para sahabat, Nabi Muhammad SAW telah menggunakan beberapa metode pendidikan, diantaranya
adalah :
1.
Graduasi (al Tadarruj)
Metode graduasi atau penahapan ini sebenarnya
merupakan metode al- Qur’an dalam membina masyarakat, baik dalam melenyapkan
kepercayaan dan tradisi jahiliyah maupun yang lain. Al Qur’an diturunkan kepada
Nabi SAW secara bertahap (berangsur-angsur), begitu pula Nabi SAW dalam
menyampaikan hal itu kepada pasa sahabat. Karenanya, sangatlah wajar apabila
salah satu metode pendidikan Nabi SAW adalah graduasi. [2]
Metode ini
digunakan pula dalam pembuatan kurikulum untuk menentukan jangkauan dan
rangkaian belajar (Determining scope and sequence). Salah satu metode
graduasi yang digunakan adalah simple to complex. [3]
2.
Levelisasi (Mu’arat
Mustawayat)
Penyampaian materi dakwah atau pelajaran yang
dilakukan Nabi SAW sering berbeda antara satu orang dengan orang lain. Hal ini
karena beliau sangat memperhatikan level-level atau peringkat kecerdasan
tersebut agat materi yang dijarkan tidak sia-sia karena Nabi SAW berbicara
sesuai dengan tingkat kecerdasan dan budaya mereka.[4]
Metode ini jika selaras dengan entry and exit
level yang digunakan pada course planning tepatnya sebagai metode
kedua setelah course rationale yang merupakan alasan dibentuknya suatu course.[5]
3.
Variasi (Al-Tanwi’ wa
al-Taghyir)
Variasi pendidikan Nabi SAW ini dalam hal waktu
untuk menghindari kejenuhan karena Rasulullah SAW memberikan pelajaran pada
hari-hari tertentu dengan bervariasi. Menrut Prof. Dr. Muhammad ‘Ajjaj
al-Khattib, metode ini banyak digunakan oleh lembaga-lembaga pendidikan
kontemporer. [6]
Pendapat beliau sesuai dengan pengembangan variasi
mengajar, menurut Udin S.Winaputra (2004) variasi sebgai keanekaan yang membuat
sesuatu tidak monoton, karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses belajar
mengajar ada kalanya siswa, bahkan guru mengalami kejenuhan.[7]
4.
Keteladanan (Al-Uswah wa
al-Qudwah)
Sebelum menyuruh para sahabat untuk melakukan
suatu perbuatan, Nabi SAW selalu member contoh lebih dahulu bagaimana cara
melakukannya. Metode ini sangat efektif karena para sahabat dapat melihat
sendiri bagimana ajaran Nabi SAW dipraktikan. [8]
Metode ini sesuai dengan quote John C.
Maxwell yang mengatakan “pemimpin paling efektif adalah yang memberikan contoh,
bukan perintah”. Menurut Siful Bahri Djamarah, seorang guru bukan hanya
berkewajiban memberikan ilmu pengetahuan, akan tetapi hal yang lebih penting
adalah membrikan contoh yang baik terhadap anak didiknya. Hal ini menjadi salah
satu penyebab adanya bebrapa syarat kompetensi yang harus dimiliki guru.[9]
5.
Aplikatif (Al-tatbiqi wa
al-‘Amali)
Nabi SAW telah memberika suri tauladan dalam
ajaran-ajaran yang beliau ajarkan, maka pada gilirannya para sahabat yang
mengaplikasikan ajaran-ajaran tersebut. pendidikan Nabi SAW tidak sekedar
penyampaian pelajaran saja, melaiankan juga langsung diamalkan.[10]
Metode ini berhubungan dengan developing
instructional (pengembangan pembelajaran), pada developing instructional
aplikatif dikatakan sebagai outcome, pada metode inilah siswa
diharapkan mampu mencapai aim pada silabus.[11]
6.
Dialog (al-Hiwar), analogi
(Al-Qiyas), dan cerita atau kisah (al-Qishah)
Nabi SAW melakukan beberapa kretifitas dalam
metode pengajarannya, diantaranya dialog, analogi, dan cerita. Metode ini
digunakan agar proses belajar mengajar dapat dinikmati oleh siswa. [12]
Keterampilan
dalam mengajar sangat penting dan berkaitan dengan usaha mempertahankan kondisi
kelas dan mengembangkan iklim kelas. Dengan adanya keterampilan seperti dialog,
analoi, dan kisah, dapat membuat siswa lebih semangat dalam belajar.[13]
Beberapa metode pendidikan Nabi SAW
sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW meletakan pendidikan pada posisi yang
penting, dan metode tersebut sesuai dengan apa yang telah ada saat ini, artinya
tidak ada pertentangan di dalamnya. Hanya terdapat beberapa perkembangan metode
yang diaplikasikan oleh pendidikan saat ini. Jika metode-metode pendidikan
telah sesuai dengan metode pendidikan Nabi SAW, maka seharusnya pendidikan pada
saat ini lebih banyak memberikan pengaruh positif bagi siswa, akan tetapi hanya
sebagian kecil saja yang mendapat pengaruh positifnya, karena pada realitasnya
banyak perilaku siswa yang tidak pantas dilakukan. Inilah permasalahan
pendidikan di Indonesia hanya sekedar teori.
C.
Problematika Pendidikan
Adapun yang dimaksud dengan
problematika pendidikan adalah, persoalan-persoalan atau
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya Negara
Indonesia.[14]
Sistem pendidikan menjadi bagian tak
terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem.
Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak singkron
dengan pembanguanan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai
sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem tersebut, dimana sistem
pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga
permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya
suatu permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitan dengan
masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu
hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial budaya
dan ekonomi masyarakat di sekitarnya, dari mana murid-murid sekolah tersebut
berasal, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem
persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut.
Objek permasalahan yang dianggap cukup
penting pada pada pembahasan ini yaitu adanya kecenderungan menurunnya akhlak
dan moral yang menyebabkan lunturnya tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial,
seperti terjadinya tawuran pelajar dan kenakalan remaja. Dalam hal ini
pendidikan agama menjadi sangat penting. Landasan akhlak dan moral serta budi
pekerti yang luhur perlu diberikan kepada peserta didik sejak dini, dengan
demikian hal itu akan menjadi landasan yang kuat bagi kekokohan moral dan etika
setelah terjun ke masyarakat.
Eratnya hubungan pendidikan dan
masyarakat, menjadi tanggung jawab tersendiri bagi pendidikan. Pada saat ini,
permasalahan pelecehan seksual terhadap anak kecil (pedofilia) merupakan
sesuatu yang sangat memprihatinkan bagi
pendidikan, karena budi pekerti seharusnya benar-benar diterapkan sejak dini
agar menjadi landasan yang kokoh. Jika objek permasalahan ini adalah anak
kecil, maka dapat dikatakan pendidikan gagal dalam menyampaikan budi pekerti.
Permasalahan ini mendorong adanya
perbaikan pada pendidikan yang implementasinya pada kurikulum, maka pada saat
ini pembentukan kurikulum 2013 menekankan pada nilai afektif siswa dengan meningkatkan
pendidikan karakter, dengan harapan terjaganya akhlak dan moral generasi
bangsa. Tentunya pada pengembangan nilai afektif ini, perlu ada kontribusi yang
cukup besar dari lingkungan, masyarakat, terutama orang tua. Tujuan dari
kurikulum 2013 ini tidak akan terwujud sesuai yang diharapkan jika tidka ada
kontribusi dari lingkungan masyarakat sekitar dan keluarga.
D.
Relevansi Hadis Nabi SAW dengan
Pendidikan
Beberapa metode pendidikan yang
diterapkan Rasulullah SAW sejalan dengan metode pendidikan di Indonesia pada
umumnya. Perilaku yang dicontohkan Rasulullah SAW jelas masuk kategori prilaku
atau karakter akhlak mulia dan menunjukan budi pekerti luhur yang memang
seharusnya dikembangkan dan dimiliki oleh setiap manusia. Lewis mengatakan bahwa akhlak/karekter
seperti mengasihi, menghormati, jujur, tanggung jawab, dan adil merupakan
karakter positif. Mengembangkan karakter positif berhubungan dengan nurani,
keyakinan, pengalaman pribadi, pola asuh, hak-hak, tanggung jawab, kebudayaan,
serta hukum yang berhubungan dengan diri
sendiri, sesama dan dengan dunia. [15]
Relevansi hadis Nabi SAW
terdapat pada konsep pendidikan karakter yang dilakukan Rasulullah SAW kepada
para sahabat dan umatnya.
Di bawah ini beberapa hadis yang
berkaitan dengan pendidikan karakter, diantaranya adalah ;
دَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ هِشَامٍ
يَعْنِي الْيَشْكُرِيَّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ سَوَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهُوَ سَوَّارُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو حَمْزَةَ الْمُزَنِيُّ
الصَّيْرَفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ
بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ
أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع ) رواه أبو داود )
Hadis tersebut mengandung dua pokok
bahasan, yaitu :
1.
Intruksi Rasulullah SAW kepada
umat Islam untuk memerintahkan anaknya melaksanakan ibadah shalat fardu
ketika berusia 7 tahun dan pada saat berusia 10 tahun, jika seorang anak tidak
mau menjalankan perintah untuk shalat, maka orang tua diperbolehkan memukulnya.
Perintah shalat ini selain mengandung nilai-nilai perilaku manusia terhadap
Allah SWT sebagai pembentuk karakter spiritual dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Hadis ini juga mengandung nilai-nilai yang terkandung pada diri sendiri dan
mengandung tuntunan untuk mencapai kedisiplinan waktu, menjalankan perintah
Alla SWT dan menjauhi larangan-Nya.
2.
Perintah memisahkan tempat
tidur diantara mereka, dimaksudkan menghindari fitnah seks di tempat tidur,
karena usia 10 tahun ini usia menjelang baligh atau menjelang usia remaja.
Perkembangan seksnya mengalami perkembangan jasmani dan rohaninya. Syekh
al-Manawi dalam Fath al-Qadir Syarah al-Jami al-Shagir berkata bahwa
pemisahan tempat tidur antar mereka untuk menghindari syahwat seksual.[16]
Dalam
hadis digabungkan antara perintah shalat dan perintah memisahkan mereka dari
tempat tidurmemberikan pelajaran agar memelihara perintah-perintah Allah SWT
secara keseluruhan dan memelihara hubungan baik antar sesama manusia. Anak
dijauhkan dari pengaruh dorongan seks atau penyimpangan seksual bagi pergaulan
bebas maupun tontonan film-film atau gambar dan cerita porno yang merangsang
birahi seksual anak.
Relevansi
hadis ini dengan masalah pelecehan seksual pada anak usia dini. Jika melihat
pada hadis ini, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, maka hal tersebut
seharusnya tidak terjadi. Begitu penting peran hadis dalam hal ini menjadikan
pendidik semakin berkewajiban untuk mengembangkan pendidikan karakter yang
ditekankan pada kontribusi orang tua.
Dengan demikian hadis
Rasulullah relevan dengan teori-teori dalam pendidikan pada masa sekarang.
Dalam pelaksanaa shalat, terjadi juga pengetahuan moral (moral know),
perasaan moral, (moral feeling), dan keterampilan moral (moral
skills).
E.
Simpulan
Konsep
pendidikan pada masa Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya sejalan
dengan konsep pendidikan yang dikemukakan para ilmuan masa sekarang. Materi
yang beliau ajarkan senantiasa selaras dengan akhlak beliau. Beberapa metode
yang diterapkanpun sejalan dengan metode pendidikan pada saat ini umumnya.
Demikian dapat dketahui adanya
problematika pendidikan bukan karena pendidikan itu sendiri, melainkan semua
terkait dalam pendidikan, terutama peserta didik dan orang tua.
[1] Mulyasa, Pengembangan
Implementasi Kurikulum 2013,( Bandung: PT. REMAJA ROSDAKARYA, 2013),h.13.
[2] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 2008), cet. Ke 4, h. 138.
[3] Richards Jack C., Curriculum Development in Lnaguage Teaching,(United
States: Cambridge University Press. 2001).h. 150.
[4] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.139 .
[5] Richards Jack C., Curriculum Development in Language Teaching,
h. 146
[6] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, h.141.
[7] Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung :Refika
Aditama, 2009), h. 91
[8] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah
dan Metode Dakwah Nabi, h.142
[9] Pupuh dan Sobri, Strategi
Belajar Mengajar,h. 43
[10] Ya’qub, Ali Mustafa, Sejarah
dan Metode Dakwah Nabi, h.142
[11] Richards Jack C., Curriculum Development in Language Teaching,
hal.166
[12] Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar
,h.146-148
[13] Pupuh dan Sobri, Strategi Belajar Mengajar
,h.108
[14] Mochtar Buchori. 1994. Spektrum
Problematika Pendidikan di Indonesia. (Yogyakarka:
Tiara Wacana Yogya), h. 46-47
[15] (Lewis, B.A. (2004). Character
Building , New York:publishing Group,2004),h.5
[16] Khon, Abdul Majid, Hadis
Tarbawi, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2012), h.267.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar