Kamis, 19 Maret 2015

Live and Learn

Kehidupan adalah hal yang tidak akan lepas dari ranah sosiologi, sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat dan semua hal yag terkait di dalamnya. Disadari tau tidak, peranan sosiologi cukup penting dalam membantu memecahkan masalah-masalah sosial, seperti keluarga, pendidikan, kemiskinan, delikuensi  konflik antar ras, dan lain-lain. Para ahli sosiologi pasti menghubungkan dengan beberapa teori dalam sosiologi, bahkan membuat teori baru. Akan tetapi masalah dalam kehidupan tidak akan terselesaikan jika hanya berdasarkan teori, karena pada hakikatnya teori merupakan hubungan antar bebarapa fakta atau lebih, atau suatu pegaturan fakta dengan cara-cara tertentu. Teori mengenai sosiologi ini semakin berkembang seolah perkembangan sosiologi dari sudut teoritis akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana perkembangan sosiologi pda masa yang akan datang. Hal seperti ini lah yang sangat memungkinkan adanya proyeksi sosial, dan yang lebih menghawatirkan saat warga Indonesia selalu berkiblat ke Barat. Padahal jika ditinjau lebih jauh, mereka membuat teori berdasarkan pengalaman dan uji coba mereka di tanah atau tempat mereka singgah, yang sangat jelas bahwa kondisi mereka jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia. Sehingga sangat besar kemungkinan, teori mereka berhasil dilakukan disana, akan tetapi kurang tepat atau gagal saat diaplikasikan di Indonesia. Sama halnya dengan sistem pendidikan di Indoseia yang sebagian besarnya berkiblat ke Barat. Saat bahasa Inggris menjadi bahasa internasional, hampir seluruh penjuru di dunia ini ingin menguasai bahasa Inggris bahkan sampai melupakan bahasa daerahnya sendiri. Hal ini cukup menghawatirkan, hingga para guru mencari metode yang tepat untuk pengajaran bahasa Inggris, kemudian buku-buku pengajaran bahasa Inggris dari Barat sampai ke Indosesia dengan menggunakan bahasa Inggris sebabai pengantar. Tidak diragukan lagi bahwa buku-buku karya mereka yang sampai ke Indonesia pasti berdasarkan penelitian mereka yang berhasil dilakukan di wilayah mereka yang sangat berbeda dengan kondisi sosial negera kita ini. Saat buku-buku pengajaran bahasa Inggris masuk ke Indosesia yang sangat mengharapkan adaya keefektifan dalam proses belajar mengajar, banyak yang beranggapan bahwa buku dari Barat itulah yang dapat menjawab kegelisahan para guru. Beberapa penulis yang terkenal seperti Jack Richard, Jeremy Harmer, Geoge Yuli, Robert Rodman, dan lain-lain. Pada hakikatnya, berkiblat pada negara Barat, bukan berarti hal yang salah, akan tetapi kurang tepat jika diaplikasikan di negara kita yang sangat berbeda kondisinya dengan negara mereka dan yang perlu dilakukan adalah menyesuaikannya dengan keadaan negara kita. Jika buku tersebut berjudul pengajaran bahasa Inggris  sebagai bahasa asing, maka salah satu langkah awalnya adalah dengan menambahkan budaya dan keadaan di Indonesia. Jadi, buku pengajaran tersebut biasa menjadi pengajaran bahasa Inggris  sebagai bahasa asing di Indonesia. Dengan begitu, aplikasi pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dapat mengadopsi dari Barat dengan beberapa revisi di dalamnya agar keefektifan belajar dan mengajar dapat terlaksana. Apakah Indonesia hanya akan menjadi negara konsumtif?, ini hal yang perlu diminimalisir.  

            Sosiologi berhubungan erat dengan kehidupan, dan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan. Bukan hanya guru sebagai profesi yang berperan dalam hal ini, akan tetapi peran guru. Berawal dari kehidupan keluarga hingga lapisan masyakarat, peran guru sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk transfer ilmu pengetahuan atau sebuah penilaian yang tertera dalam raport siswa setiap semesternya. Nilai akademik tidak akan berarti tanpa nilai non akademik yang baik, disinilah peran guru yang sebenarnya, dakwah. Jika memperhatikan keberhasilan dakwah Nabi saw, ada dua faktor penting yang menentukan keberhasilan dakwah beliau, adanya konsistensi dan kode etik dakwah, serta keteladanan yang beiau berikan kepada para shahabat. Melihat metode dakwah Nabi saw, alangkah indahnya jika diaplikasikan oleh para guru masa kini, walaupun hanya dua poin, tapi itu sangat penting dan dapat memberikan pengaruh yang sangat baik.

            Ilmu sosiologi, psikologi pendidikan, pelatihan guru, dan hal-hal lain yang bertujuan untuk mendukung keefektifan pengajaran, akan sulit meraih tujuannya jika tidak dilandasi dengan ketulusan. Sebenarnya, peran guru di sekolah bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru, akan tetapi memiliki tanggung jawab yang cukup besar bagi generasi penerus bangsa. Ketulusan guru lah yag perlu diapresiasi, tidak mudah mendidik putra dan putri bangsa dengan menganggapnya seperti anak sendiri. Tidak ada yang tidak mengetahui bahwa orang tua kita di sekolah adalah guru, lantas kemana orang tua yang berperan sebagai guru ketika anak tidak berada di sekolah?. Inilah peran penting orang tua di rumah.    

            Peran guru sangat penting untuk dimiliki orang tua, kehidupan seorang anak berawal dari lingkungan keluarga dan orang tua yang menjadi faktor utama pembentukan karakter anak. Kertas putih yang masih bersih tanpa sedikitpun coretan di atasnya, coretan yang bermanfaat atau mungkin sebaliknya, orang tua lah yang sangat berpengaruh dalam hal ini. Layaknya tumbuhan yang dipupuk dengan pupuk yang bagus, maka akan tumbuh besar menjadi tumbuhan yang bagus dan bermanfaat, jika proses pertumbuhannya selalu diperhatikan dan diluruskan sejak kecilnya maka tidak akan dahan yang patah. Begitupun seorang anak yang selalu diberikan kasih sayang dan dihiasi dengan akhlak yang baik sejak dini, maka akan terus tumbuh dan berkembang dengan baik, serta meiliki pondasi yang kuat hingga selalu ringan untuk melakukan segala sesuatu sesuai hati nuraninya tanpa belenggu. Sungguh indah jika nilai-nilai keagamaan menjadi pondasi utama bagi seorang anak. Sehingga saat bersosialisasi dengan lingkunganya, nilai-nilai keislaman itulah yang menggerakan rasionya untuk bertindak sesuai hati nuraninya.

Jika memperhatikan biografi beberapa ulama, semuanya hampir tidak lepas dari pengorbanan seorang ibu. Salah satunya biografi Imam Bukhari (w.256 H) Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imâm Bukhârî  mengalami kehilangan penglihatan atau buta. Dokter yang paling ahli pun tidak bisa menyembuhkan hingga suatu malam ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrâhim yang berkata padanya, “Wahai ibu, disebabkan oleh banyak do’a dan tangisanmu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu.” Selain shalat malam, sang ibu tidak lupa untuk memanjatkan do’a untuk kesembuhan anaknya. Maka pada pagi harinya, penglihatan Imâm  Bukhârî  kembali seperti semula. Ketabahan dan kesabaran ibu yang shâlihah ini akhirnya mulai membuahkan hasil, sejak berumur kurang lebih 10 tahun, sekitar tahun 204 atau 205 H. Imâm Bukhârî  mulai mempelajari hadis dan muncul sebagai anak yang berlian cara berpikirnya sehinggga mengalahkan anak-anak sebayanya.

Pribadi yang sabar, tabah, amanah, tulus, dan bersifat mengayomi merupakan kepribadian yang seharusnya dimiliki seorang guru. Kepribadian tersebut sangat diharapkan ada dalam diri seorang guru, dalam hal ini, bukan hanya profesi guru akan tetapi peran guru yang penting untuk dimiliki oleh para pendidik, di rumah maupun di masyarakat. Hakikatnya, peran orang tua dan guru sangat erat dan berkaitan, serta saling melengkapi. Seorang guru menjadi orang tua di sekolah, dan orang tua menjadi guru di rumah. Peran guru yang tidak didapatkan oleh anak di rumah, akan menjadi suatu kendala bagi anak saat di sekolah dan mengurangi kenyamanan anak saat di rumah, begitupun sebaliknya peran orang tua yang tidak didapatkan oleh anak saat di sekolah, akan mengurangi kenyamanan anak di sekolah. Tidak sedikit seorang anak yang sukses karena peran orang tuanya terutama orang ibu. Seperti Imam Bukhari yang terlahir dari seorang ibu yang tidak biasa. Hal-hal seperti ini yang seharusnya menjadi cermin bagi para calon orang tua, terutama ibu. Ibu yang harus menjadi seorang guru dan teman bagi anak bukan seorang ibu yang biasa, karena perannya sangat berpengaruh.

Kehidupan yang dihiasi dengan banyaknya ilmu, keindahan alam, serta kepribadian manusia yang berbeda-beda. Adanya ilmu sosiolgi dan ilmu-ilmu yang lainnya, serta banyaknya teori tidak akan lepas dari pelajaran yang diambil dari kehidupan ini. Maka dengan menerapakan live and learn, hidup akan lebih berarti. Dengan belajar dan memahami kepribadian orang-orang di sekitar kita seperti orang tua dan guru, dapat membuat kita lebih menyadari arti hidup dan semua kepribadian mereka menjadi berarti jika darinya kita dapat belajar.

Mulai dari hal-hal yang biasa dilakukan sebagai kewajiban kita, seperti sholat lima waktu, darinya banyak pelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita seperti kerapihan, kekompakan, konsistensi, dan masih banyak yang lainnya. Jika direnungkan, seharusnya kerapihan, kekompakan, dan konsistensi tersebut sudah tertanam dalam diri seorang muslim.

Belajar dari hubungan sosiologi dan kehidupan, peran guru dan orang tua, serta lingkungan masyarakat sekitar merupakan hal yang sangat penting dalam hidup ini, tentunya semua itu tidak lepas dari ranah nilai-nilai keislaman. Jika hidup ini layaknya seorang jurnalis yang selalu mencatat bahkan mengkritisi setiap kejadian yang dilihatnya hingga tidak dapat berpisah dari pena dan kertas. Tidak harus menjadi seorang jurnalis, Allah swt telah menganugrahkan akal pikiran kepada kita, dari apa yang telah diberikan-Nya kita dapat memanfaatkannya untuk belajar dari setiap apa yang kita lihat dan apa yang kita lewati. Layaknya seseorang yang bepergian dengan kereta, jika hanya melihat lurus ke depan tanpa menikmati pemandangan di sekitarnya, maka tidak ada yang didapatkannya selama perjalan itu, padahal keduanya -melihat lurus ke depan atau menikmati pemandangan-, akan sampai pada tujuannya.

Semakin kita memahami hidup, rasa bersyukur akan semakin tumbuh, akan terus ada motifasi untuk beribadah dan berbuat baik, serta kasih sayang kepada sesama, terutama kepada orang tua akan semakin dalam. Selain itu juga baik laki-laki maupun perempuan, akan semakin termotivasi untuk mempersiapkan dirinya dan kepribadiannya sebelum menghadapi fase kehidupan yang lebih menantang. Seperti peran sebagai orang tua dan guru. Mengapa guru, dan bukan profesi yang lainnya?. Karena guru bukan hanya profesi akan tetapi pengabdian, dengan niat tulus seorang guru, keberhasilan seorang anak dapat terwujud. Karena dibalik kesuksesan seorang anak pasti ada peran seorang guru yang tidak pernah putus asa. Disinilah peran guru dan orang tua dibutuhkan, adanya orang tua yang memiliki peran guru dan guru yang memiliki peran orang tua.

Jika kita terus belajar dari hidup ini, bukan hanya kita akan akan belajar tapi secara tidak langsung dapat mengajak banyak orang untuk belajar, bahkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita dapat menjadi buku jika kita dapat membacanya, jika tidak dapat membacanya dengan logika, maka bacalah dengan hati, maka hidup akan lebih berarti.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar