Live and Learn
Kehidupan adalah hal yang tidak akan lepas dari ranah sosiologi,
sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat dan semua hal yag terkait di dalamnya.
Disadari tau tidak, peranan sosiologi cukup penting dalam membantu memecahkan masalah-masalah
sosial, seperti keluarga, pendidikan, kemiskinan, delikuensi konflik antar ras, dan lain-lain. Para ahli
sosiologi pasti menghubungkan dengan beberapa teori dalam sosiologi, bahkan
membuat teori baru. Akan tetapi masalah dalam kehidupan tidak akan
terselesaikan jika hanya berdasarkan teori, karena pada hakikatnya teori
merupakan hubungan antar bebarapa fakta atau lebih, atau suatu pegaturan fakta
dengan cara-cara tertentu. Teori mengenai sosiologi ini semakin berkembang seolah
perkembangan sosiologi dari sudut teoritis akan dapat memberikan
petunjuk-petunjuk bagaimana perkembangan sosiologi pda masa yang akan datang.
Hal seperti ini lah yang sangat memungkinkan adanya proyeksi sosial, dan yang
lebih menghawatirkan saat warga Indonesia selalu berkiblat ke Barat. Padahal
jika ditinjau lebih jauh, mereka membuat teori berdasarkan pengalaman dan uji
coba mereka di tanah atau tempat mereka singgah, yang sangat jelas bahwa
kondisi mereka jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia. Sehingga sangat besar
kemungkinan, teori mereka berhasil dilakukan disana, akan tetapi kurang tepat
atau gagal saat diaplikasikan di Indonesia. Sama halnya dengan sistem
pendidikan di Indoseia yang sebagian besarnya berkiblat ke Barat. Saat bahasa
Inggris menjadi bahasa internasional, hampir seluruh penjuru di dunia ini ingin
menguasai bahasa Inggris bahkan sampai melupakan bahasa daerahnya sendiri. Hal
ini cukup menghawatirkan, hingga para guru mencari metode yang tepat untuk
pengajaran bahasa Inggris, kemudian buku-buku pengajaran bahasa Inggris dari
Barat sampai ke Indosesia dengan menggunakan bahasa Inggris sebabai pengantar. Tidak
diragukan lagi bahwa buku-buku karya mereka yang sampai ke Indonesia pasti
berdasarkan penelitian mereka yang berhasil dilakukan di wilayah mereka yang
sangat berbeda dengan kondisi sosial negera kita ini. Saat buku-buku pengajaran
bahasa Inggris masuk ke Indosesia yang sangat mengharapkan adaya keefektifan
dalam proses belajar mengajar, banyak yang beranggapan bahwa buku dari Barat
itulah yang dapat menjawab kegelisahan para guru. Beberapa penulis yang
terkenal seperti Jack Richard, Jeremy Harmer, Geoge Yuli, Robert Rodman, dan
lain-lain. Pada hakikatnya, berkiblat pada negara Barat, bukan berarti hal yang
salah, akan tetapi kurang tepat jika diaplikasikan di negara kita yang sangat
berbeda kondisinya dengan negara mereka dan yang perlu dilakukan adalah
menyesuaikannya dengan keadaan negara kita. Jika buku tersebut berjudul
pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa
asing, maka salah satu langkah awalnya adalah dengan menambahkan budaya dan
keadaan di Indonesia. Jadi, buku pengajaran tersebut biasa menjadi pengajaran
bahasa Inggris sebagai bahasa asing di
Indonesia. Dengan begitu, aplikasi pengajaran bahasa Inggris di Indonesia
dapat mengadopsi dari Barat dengan beberapa revisi di dalamnya agar keefektifan
belajar dan mengajar dapat terlaksana. Apakah Indonesia hanya akan menjadi
negara konsumtif?, ini hal yang perlu diminimalisir.
Sosiologi
berhubungan erat dengan kehidupan, dan pendidikan merupakan salah satu aspek
penting dalam kehidupan. Bukan hanya guru sebagai profesi yang berperan dalam
hal ini, akan tetapi peran guru. Berawal dari kehidupan keluarga hingga lapisan
masyakarat, peran guru sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk transfer ilmu
pengetahuan atau sebuah penilaian yang tertera dalam raport siswa setiap
semesternya. Nilai akademik tidak akan berarti tanpa nilai non akademik yang
baik, disinilah peran guru yang sebenarnya, dakwah. Jika memperhatikan
keberhasilan dakwah Nabi saw, ada dua faktor penting yang menentukan
keberhasilan dakwah beliau, adanya konsistensi dan kode etik dakwah, serta
keteladanan yang beiau berikan kepada para shahabat. Melihat metode dakwah Nabi
saw, alangkah indahnya jika diaplikasikan oleh para guru masa kini, walaupun
hanya dua poin, tapi itu sangat penting dan dapat memberikan pengaruh yang
sangat baik.
Ilmu sosiologi,
psikologi pendidikan, pelatihan guru, dan hal-hal lain yang bertujuan untuk
mendukung keefektifan pengajaran, akan sulit meraih tujuannya jika tidak
dilandasi dengan ketulusan. Sebenarnya, peran guru di sekolah bukan hanya
sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru, akan tetapi memiliki
tanggung jawab yang cukup besar bagi generasi penerus bangsa. Ketulusan guru
lah yag perlu diapresiasi, tidak mudah mendidik putra dan putri bangsa dengan
menganggapnya seperti anak sendiri. Tidak ada yang tidak mengetahui bahwa orang
tua kita di sekolah adalah guru, lantas kemana orang tua yang berperan sebagai
guru ketika anak tidak berada di sekolah?. Inilah peran penting orang tua di
rumah.
Peran guru sangat
penting untuk dimiliki orang tua, kehidupan seorang anak berawal dari
lingkungan keluarga dan orang tua yang menjadi faktor utama pembentukan
karakter anak. Kertas putih yang masih bersih tanpa sedikitpun coretan di
atasnya, coretan yang bermanfaat atau mungkin sebaliknya, orang tua lah yang
sangat berpengaruh dalam hal ini. Layaknya tumbuhan yang dipupuk dengan pupuk yang
bagus, maka akan tumbuh besar menjadi tumbuhan yang bagus dan bermanfaat, jika
proses pertumbuhannya selalu diperhatikan dan diluruskan sejak kecilnya maka
tidak akan dahan yang patah. Begitupun seorang anak yang selalu diberikan kasih
sayang dan dihiasi dengan akhlak yang baik sejak dini, maka akan terus tumbuh
dan berkembang dengan baik, serta meiliki pondasi yang kuat hingga selalu
ringan untuk melakukan segala sesuatu sesuai hati nuraninya tanpa belenggu. Sungguh
indah jika nilai-nilai keagamaan menjadi pondasi utama bagi seorang anak.
Sehingga saat bersosialisasi dengan lingkunganya, nilai-nilai keislaman itulah
yang menggerakan rasionya untuk bertindak sesuai hati nuraninya.
Jika
memperhatikan biografi beberapa ulama, semuanya hampir tidak lepas dari
pengorbanan seorang ibu. Salah satunya biografi Imam Bukhari (w.256 H) Sebuah
riwayat menceritakan bahwa Imâm Bukhârî
mengalami kehilangan penglihatan atau buta. Dokter yang paling ahli pun
tidak bisa menyembuhkan hingga suatu malam ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi
Ibrâhim yang berkata padanya, “Wahai ibu, disebabkan oleh banyak
do’a dan tangisanmu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu.” Selain
shalat malam, sang ibu tidak lupa untuk memanjatkan do’a untuk kesembuhan
anaknya. Maka pada pagi harinya, penglihatan Imâm Bukhârî
kembali seperti semula. Ketabahan dan kesabaran ibu yang shâlihah ini akhirnya mulai membuahkan hasil, sejak berumur kurang
lebih 10 tahun, sekitar tahun 204 atau 205 H. Imâm Bukhârî mulai mempelajari hadis dan muncul sebagai
anak yang berlian cara berpikirnya sehinggga mengalahkan anak-anak sebayanya.
Pribadi yang
sabar, tabah, amanah, tulus, dan bersifat mengayomi merupakan kepribadian yang
seharusnya dimiliki seorang guru. Kepribadian tersebut sangat diharapkan ada dalam
diri seorang guru, dalam hal ini, bukan hanya profesi guru akan tetapi peran
guru yang penting untuk dimiliki oleh para pendidik, di rumah maupun di
masyarakat. Hakikatnya, peran orang tua dan guru sangat erat dan berkaitan,
serta saling melengkapi. Seorang guru menjadi orang tua di sekolah, dan orang
tua menjadi guru di rumah. Peran guru yang tidak didapatkan oleh anak di rumah,
akan menjadi suatu kendala bagi anak saat di sekolah dan mengurangi kenyamanan
anak saat di rumah, begitupun sebaliknya peran orang tua yang tidak didapatkan
oleh anak saat di sekolah, akan mengurangi kenyamanan anak di sekolah. Tidak
sedikit seorang anak yang sukses karena peran orang tuanya terutama orang ibu.
Seperti Imam Bukhari yang terlahir dari seorang ibu yang tidak biasa. Hal-hal
seperti ini yang seharusnya menjadi cermin bagi para calon orang tua, terutama
ibu. Ibu yang harus menjadi seorang guru dan teman bagi anak bukan seorang ibu
yang biasa, karena perannya sangat berpengaruh.
Kehidupan yang
dihiasi dengan banyaknya ilmu, keindahan alam, serta kepribadian manusia yang
berbeda-beda. Adanya ilmu sosiolgi dan ilmu-ilmu yang lainnya, serta banyaknya
teori tidak akan lepas dari pelajaran yang diambil dari kehidupan ini. Maka
dengan menerapakan live and learn, hidup akan lebih berarti. Dengan
belajar dan memahami kepribadian orang-orang di sekitar kita seperti orang tua
dan guru, dapat membuat kita lebih menyadari arti hidup dan semua
kepribadian mereka menjadi berarti jika darinya kita dapat belajar.
Mulai dari hal-hal
yang biasa dilakukan sebagai kewajiban kita, seperti sholat lima waktu, darinya
banyak pelajaran yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita seperti
kerapihan, kekompakan, konsistensi, dan masih banyak yang lainnya. Jika
direnungkan, seharusnya kerapihan, kekompakan, dan konsistensi tersebut sudah
tertanam dalam diri seorang muslim.
Belajar dari
hubungan sosiologi dan kehidupan, peran guru dan orang tua, serta lingkungan
masyarakat sekitar merupakan hal yang sangat penting dalam hidup ini, tentunya
semua itu tidak lepas dari ranah nilai-nilai keislaman. Jika hidup ini layaknya
seorang jurnalis yang selalu mencatat bahkan mengkritisi setiap kejadian yang
dilihatnya hingga tidak dapat berpisah dari pena dan kertas. Tidak harus
menjadi seorang jurnalis, Allah swt telah menganugrahkan akal pikiran kepada
kita, dari apa yang telah diberikan-Nya kita dapat memanfaatkannya untuk
belajar dari setiap apa yang kita lihat dan apa yang kita lewati. Layaknya
seseorang yang bepergian dengan kereta, jika hanya melihat lurus ke depan tanpa
menikmati pemandangan di sekitarnya, maka tidak ada yang didapatkannya selama perjalan
itu, padahal keduanya -melihat lurus ke depan atau menikmati pemandangan-, akan
sampai pada tujuannya.
Semakin kita
memahami hidup, rasa bersyukur akan semakin tumbuh, akan terus ada motifasi
untuk beribadah dan berbuat baik, serta kasih sayang kepada sesama, terutama
kepada orang tua akan semakin dalam. Selain itu juga baik laki-laki maupun
perempuan, akan semakin termotivasi untuk mempersiapkan dirinya dan
kepribadiannya sebelum menghadapi fase kehidupan yang lebih menantang. Seperti
peran sebagai orang tua dan guru. Mengapa guru, dan bukan profesi yang
lainnya?. Karena guru bukan hanya profesi akan tetapi pengabdian, dengan niat
tulus seorang guru, keberhasilan seorang anak dapat terwujud. Karena dibalik
kesuksesan seorang anak pasti ada peran seorang guru yang tidak pernah putus
asa. Disinilah peran guru dan orang tua dibutuhkan, adanya orang tua yang
memiliki peran guru dan guru yang memiliki peran orang tua.
Jika kita terus
belajar dari hidup ini, bukan hanya kita akan akan belajar tapi secara tidak
langsung dapat mengajak banyak orang untuk belajar, bahkan segala sesuatu yang
ada di sekitar kita dapat menjadi buku jika kita dapat membacanya, jika tidak
dapat membacanya dengan logika, maka bacalah dengan hati, maka hidup akan lebih
berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar